Ahad, 18 Julai 2021

ORANG YANG MENGHALANGI PERBUATAN BAIK

[2:114] Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

[2:169] Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

[2:217] Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah {134}. Dan berbuat fitnah {135} lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

[2:224] Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia {139}. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

[2:268] Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia {170}. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

[3:99] Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

[4:55] Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.

[4:61] Apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

[4:160] Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,

[4:167] Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.

[5:2] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah {389}, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram {390}, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya {391}, dan binatang-binatang qalaa-id {392}, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya {393} dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

[5:79] Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

[5:91] Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

[6:26] Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quraan dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.

[6:130] Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

[6:131] Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah {505}.

[6:132] Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

[6:133] Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

[6:134] Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.

[6:135] Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu {506}, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini {507}. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.

[6:136] Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka {508}. Amat buruklah ketetapan mereka itu.

[6:137] Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya {509}. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

[6:138] Dan mereka mengatakan {510}: “Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki”, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya {511}, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.

[6:139] Dan mereka mengatakan: “Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini {512} adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

[6:140] Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui {513} dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

 [7:16] Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

[7:20] Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.

[7:22] maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

[7:44] Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,

[7:45] (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.”

[7:86] Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

[8:34] Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

[8:36] Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,

[8:47] Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

[9:9] Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.

[9:34] Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

[9:67] Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya {648}. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

[11:18] Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah?. Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi {716} akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

[11:19] (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat.

[11:20] Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipat gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat(nya).

[13:33] Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu”. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.

[14:3] (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.

[16:88] Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan {837} disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. [16:94] Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.

[17:94] Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?”

[22:25] Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.

[27:24] Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

[28:87] Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

[29:38] Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam,

[33:18] Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.

[33:19] Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

[34:32] Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.

[34:33] Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.

[40:37] (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.

[43:37] Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

[47:1] Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka {1392}.

[47:32] Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.

[47:34] Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka.

[48:25] Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang yag kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.

[50:25] yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu,

[58:8] Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

[58:16] Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan.

[63:2] Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai {1477}, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

[68:12] yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

Sabtu, 17 Julai 2021

Peranan Akidah Dalam Kidup Muslim

Akidah (العقيدة) dari segi bahasa (etimologis) berasal dari Bahasa Arab (عَقَدَ) yang bermakna 'ikatan' atau 'sangkutan' atau menyimpulkan sesuatu. Menurut istilah (terminologis) 'aqidah' bererti 'kepercayaan', 'keyakinan' atau 'keimanan' yang mantap dan tidak mudah terurai oleh pengaruh mana pun sama ada dari dalam atau dari luar diri seseorang. Akidah Islamiyah menjelaskan konsep Rukun Iman iaitu beriman kepada Allah SWT, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Kiamat, Qada' dan Qadar (takdir baik atau buruk) daripada Allah s.w.t.

Akidah merupakan perkara asas dalam Islam. Jika akidah terpesong, maka runtuhlah pegangan Islam seseorang itu. Sesungguhnya Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada RasulNya dengan memberi fokus dan penumpuan yang serius terhadap persoalan akidah supaya setiap orang Islam selamat akidahnya dan sejahtera kehidupannya di dunia dan akhirat. Sejarah membuktikan bahawa selama lebih kurang tiga belas tahun Nabi Muhammad s.a.w semasa di Mekah, telah membentuk dan menanam akidah yang benar di kalangan sahabatnya. Kesannya sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. memiliki akidah yang teguh, keyakinan yang tinggi terhadap Islam dan sentiasa bersedia menerima arahan dan perintah daripada Rasulullah s.a.w untuk dilaksanakan.

Akidah memainkan peranan yang amat penting dalam menentukan perjalanan hidup seseorang. Akidah adalah penggerak dalam mencorakkan kehidupan seseorang muslim. Akidah yang Iemah mengakibatkan seseorang itu mudah dipengaruhi dengan gaya hidup negatif dan merosakkan. Berdasarkan penelitian secara kasar, mereka yang tidak memiliki akidah yang jelas dan terpesong akan menghadapi pelbagai masalah dalam kehidupan dan terdedah kepada berbagai-bagai kemungkaran, seperti melakukan jenayah, terlibat dalam gejala keruntuhan moral dan lain-lain.

Dalam membicarakan perkara ini, orang yang mempunyai akidah yang benar biasanya disebut sebagai orang yang beriman. Oleh yang demikian, mereka yang beriman ini amat peka dalam menjaga hubungan dengan Allah s.w.t. Mereka sentiasa mengingati Allah dalam setiap gerak kerjanya. Justeru, itulah yang dinamakan golongan ahli khawas iaitu golongan yang tinggi martabat keimanannya, bertaubat kepada Allah s.w.t. bukan kerana dosanya, tetapi kerana mungkin berlaku detik-detik kelainannya dalam mengingati Allah. Mereka juga bertaubat sebagai tanda bersyukur di atas nikmat Allah yang tidak terhingga banyaknya. Ini berbeza dengan orang awam, mereka bertaubat kerana melakukan dosa. Bahkan kadang-kadang sudah melakukan dosa pun tidak terfikir untuk bertaubat, sebaliknya terus mengulangi dosa dan kadang-kadang ada berbangga-bangga dengan perbuatan dosanya.

Pandangan orang beriman juga amat berbeza dengan pandangan orang yang tidak beriman. Pandangan orang beriman dipandu oleh cahaya hidayah. Oleh itu mereka berasa kasihan melihat keadaan orang yang tidak beriman, yang tertipu oleh dirinya sendiri dan jauh daripada hidayah Allah s.w.t. Pandangan mereka banyak didorong oleh runtunan nafsu amarah serta bisikan dan tipu daya syaitan. Mata hatinya buta, anggota dan pancainderanya menjadi alat bagi memuaskan segala keinginannya. Bagi orang yang tidak beriman pula, pandangannya terbalik, mereka berasa pelik dan hairan melihat sikap orang yang beriman serta menyifatkan sebagai jahil dan rugi. Sedang pada hakikatnya, merekalah yang jahil dan merekalah yang rugi. Ini dijelaskan oleh Firman Allah s.w.t dalam Surah Al-An'am ayat 122 yang bermaksud:

Adakah orang yang mati (hatinya dengan kufur), kemudian Kami menghidupkannya semula (dengan hidayah), lalu Kami jadikan baginya cahaya (iman) yang menerangi (sehingga dapat membezakan antara yang benar dengan yang salah) dia berjalan dengan suluhan cahaya itu dalam masyarakat manusia (adakah orang yang demikian keadaannya) sama seperti yang tinggal tetap dalam gelap gelita (kufur), yang tidak dapat keluar sama sekali daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan".

Memandangkan iman itu boleh bertambah dan boleh berkurang, maka hendaklah kita berusaha menambah dan menyuburkan keimanan kita melalui amal soleh yang merangkumi ibadat umum dan ibadat khusus. Secara ringkasnya antara lain, kita hendaklah berusaha untuk;

i. Memahami dan menyedari bahawa menuntut ilmu adalah wajib, Ilmu yang paling asas ialah ilmu agama (untuk mengenal Allah s.w.t, para Rasul, syariat Islam dan lain-lain).

ii. Cuba menghubungkan diri bersama orang-orang mukmin yang ikhlas.

iii. Mengelakkan diri dari suasana dosa dan maksiat.

iv. Bermujahadah melawan nafsu (Al-Nafs) dan jihad melawan pujuk rayu syaitan perlu dilakukan dengan bersungguh-sungguh dan berterusan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah s.w.t dalam Surah Asy-Syams ayat 9 - 10 yang bermaksud: "Sesungguhnya berjayalah orang yang menjadikan dirinya - yang sedia bersih - bertambah-tambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan). Dan sesungguhnya hampalah orang yang menjadikan dirinya - yang sedia bersih - itu susut dan terbenam kebersihannya (dengan sebab kekotoran maksiat)".

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: "Orang yang berhijrah ialah sesiapa yang meninggalkan kejahatan dan orang yang berjihad ialah yang berjuang melawan hawa nafsunya". (Riwayat lbn Majah)

 v. Berusaha bersungguh-sungguh meninggalkan perkara-perkara haram. Orang yang melanggar larangan Allah, sebenarnya dia telah menzalimi dirinya sendiri.

Bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah-ibadah asas seperti solat berjemaah, bertadabbur Al-Quran dan mengamalkan Sunnah serta melatih diri untuk sentiasa mengingati Allah s.w.t.

Sentiasa berfikir ke arah memperbaiki diri (muhasabah diri). Saidina Umar al-Khattab R.A pernah berkata: "Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah sebelum amalan kamu ditimbang".

viii. Sentiasa bertaubat dan beristighfar. Firman Allah s.w.t dalam Surah An-Nur ayat 31 yang bermaksud: "Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya".

 ix. Sentiasa berdoa. Rasulullah sendiri berdoa seperti berikut: "Ya Allah! Kurniakanlah pada jiwaku rasa takwa". (Riwayat Muslim dan An-Nasai) 

 x. Bertawakkal kepada Allah s.w.t. Sebagaimana firman Allah s.w.t dalam Surah At-Talaaq ayat 3 yang bermaksud: "Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya. Dan (Ingatlah), sesiapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendakiNya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu". 

 Disamping itu juga, kita hendaklah sentiasa berwaspada supaya akidah kita sentiasa benar. Ini kerana akidah boleh menyeleweng dan rosak melalui beberapa bentuk di antaranya; 

 a) Melalui percakapan; seperti seseorang yang mengeluarkan kata-kata yang bertentangan dengan konsep akidah Islam, sebagai contoh ucapan yang mengatakan bahawa Islam tidak sesuai untuk dilaksanakan di sepanjang zaman dan sebagainya. 

 b) Akidah boleh rosak melalui perbuatan; seperti melakukan upacara-upacara ibadah sama dengan apa yang dilakukan oleh orang bukan Islam sama ada di lempat-tempat ibadah mereka atau di mana-mana sahaja yang menunjukkan amalan yang bertentangan dengan akidah Islam. 

 c) Melalui iktikad di dalam hati. Umpamanya hati tidak yakin dengan Islam atau ragu terhadap sebahagian dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Quran dan as-Sunnah. Secara kesimpulannya, mempelajari Ilmu Akidah ini amatlah penting iaitu supaya terhindar daripada ajaran-ajaran sesat yang akan merosakan akidah seseorang terhadap Allah s.w.t, meneguhkan keimanan dan keyakinan kepada sifat-sifat kesempurnaanNya, memantapkan akidah seseorang supaya tidak terikut dan terpengaruh dengan amalan-amalan yang boleh merosakan akidah, agar audit dan timbangan amalan pada tahap cemerlang, diberi ganjaran syurga kerana amalan baiknya serta dapat mengeluarkan hujah-hujah yang boleh mematahkan hujah daripada pihak lawan yang cuba memesongkan akidah.

Jumaat, 16 Julai 2021

Akidah asas perjuangan PAS

Seluruh perjuangan para Rasul adalah berasaskan akidah seperti yang dinyatakan dalam firman Allah dalam surah An-Nahlu ayat 36 yang bermaksud – ‘Dan sesungguhnya Kami telah utus pada setiap umat, seorang rasul untuk menyeru mereka supaya kamu mengabdikan diri kepada Allah dan jauhkan diri dari ‘thoghut’. 

Ibnu Abbas mentakrifkan ‘Atthoghut‘ ialah selain daripada Allah, maka segala isme-isme yang ada seperti sekularisme, pragmatisme, liberalisme yang tidak bertunjangkan akidah Islamiah maka ia adalah ‘Thoqhut‘.

“Hari ini manusia menyembah ideologi yang dihasilkan oleh pemikiran mereka sendiri untuk memimpin manusia. “Selama 13 tahun Nabi berdakwah di Makkah untuk memulihkan akidah masyarakat ketika itu daripada menyembah ‘thoqhut‘ kepada menyembah Allah yang Esa.

“Sesungguhnya ada satu mahkamah yang akan mengadili akidah yang betul iaitu mahkamah akhirat.” ujar beliau.

Kebenaran perjuangan PAS pada hari ini adalah kerana PAS adalah parti yang bertunjangkan akidah yang berpandukan kepada Al Quran dan Assunnah yang membawa agenda dakwah, tarbiah dan siasah (politik). 

Perjuangan ini perlu dilandasi dengan keikhlasan agar sesuai untuk menerima kemenangan yang dijanjikan oleh Allah S.W.T.

Al Quran surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud : ‘Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang membuat kebaikan, bahawa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan mereka dengan agama yang telah Dia redai. Dan Dia benar-benar mengubah keadaan mereka daripada ketakutan menjadi aman sentosa.Mereka telah menyembahKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun.’

“Para amilin Islam jangan rasa hebat dengan diri sendiri kerana kita hanya amilin di jalan Allah yang mencari reda Allah.

“Kita perlu ‘solehkan’ diri kita agar keberkatannya mengalir dalam keluarga seterusnya masyarakat kita. Dosa-dosa dalam kehidupan seharian akan menjadikan kita suram dan tidak tenang.

“Apabila kita mengejar akhirat, dunia akan ikut di belakang kita dan jadilah orang-orang yang takut kepada Allah dengan memiliki ilmu (kenal Allah) sebagaimana firman Allah surah Faatir ayat 28 yang bermaksud ‘Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya, hanyalah para ulama”

Selasa, 9 Februari 2021

AYAT SAKINAH- Ayat-ayat penenang hati by Syeikh Ahmad Al Nufais




Ayat-ayat sakinah adalah berikut:-

1)
 
Dan Nabi mereka, berkata lagi kepada mereka: "Sesungguhnya tanda kerajaan Talut itu (yang menunjukkan benarnya dari Allah) ialah datangnya kepada kamu peti Tabut yang mengandungi (sesuatu yang memberi) ketenteraman jiwa dari Tuhan kamu, dan (berisi) sebahagian dari apa yang telah ditinggalkan oleh keluarga Nabi-nabi Musa dan Harun; peti Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya peristiwa kembalinya Tabut itu mengandungi satu tanda keterangan bagi kamu jika betul kamu orang-orang yang beriman". (al-Baqarah, 2: 248)


2)


Kemudian Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan tentera yang kamu tidak melihatnya, serta Ia menyeksa orang-orang kafir itu (dengan kekalahan yang membawa kehancuran); dan yang demikian itu ialah balasan bagi orang-orang yang kafir. (al-Taubah, 9: 26)

3) 


 
Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: "Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita". Maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya. Dan Allah menjadikan seruan (syirik) orang-orang kafir terkebawah (kalah dengan sehina-hinanya), dan Kalimah Allah (Islam) ialah yang tertinggi (selama-lamanya), kerana Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (al-Taubah, 9: 40)
 


4)

(Tuhan yang membuka jalan kemenangan itu) Dia lah yang menurunkan semangat tenang tenteram ke dalam hati orang-orang yang beriman (semasa mereka meradang terhadap angkara musuh) supaya mereka bertambah iman dan yakin beserta dengan iman dan keyakinan mereka yang sedia ada; pada hal Allah menguasai tentera langit dan bumi (untuk menolong mereka); dan Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. (al-Fath, 48: 4)


5)

Demi sesungguhnya! Allah reda akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya. (al-Fath, 48: 18)


6)

(Ingatlah dan kenangkanlah ihsan Tuhan kepada kamu) ketika orang-orang yang kafir itu menimbulkan perasaan sombong angkuh yang ada dalam hati mereka (terhadap kebenaran Islam) - perasaan sombong angkuh secara Jahiliyah (yang menyebabkan kamu panas hati dan terharu), lalu Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman (sehingga tercapailah perdamaian), serta meminta mereka tetap berpegang kepada "Kalimah Taqwa", sedang mereka (di sisi Allah) adalah orang-orang yang sangat berhak dengan "kalimah Taqwa" itu serta menjadi ahlinya. Dan (ingatlah), Allah adalah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. (al-Fath, 48: 26)
 

 
semoga kita amalkan ayat-ayat suci Quran di dalam kehidupan seharian kita. Naim memohon kritikan jika ada kekurangan di dalam post ini yer. Terima Kasih.

Rabu, 3 Februari 2021

Allah Tempat Bergantung bukan kepada manusia

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Hanya orang Mukmin yang sebenar itu apabila disebut saja nama Allah, gementarlah hati mereka dan apabila dibaca ayat al-Quran, be  nrtambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Allah sajalah mereka menyerah diri.” (Surah al-Anfal, ayat 2)

Kita hendaklah menaruh sandaran kepada Allah kerana harapan dan sandaran kepada Yang Maha Esa pastinya akan membuahkan rasa cinta kasih kepada allah tanpa berbelah bagi. Cinta kepada Allah akan membina ketaatan kepadanya dalam apa jua bentuk dan keadaan. Orang yang bergantung kepada Allah akan memusatkan perhatian dan focus terhadap kebaikan yang diperolehi. Sebaliknya jika apa yang dihajati tidak termakbul, mereka akan juga merasa bersyukur dan berlapang dada menerima ketentuan sebagai takdir yang terbaik Allah susun diri kita untuk sebuah kehidupan yang bukan sementara ini. Jika kita menanam keyakinan yang tinggi hanya kerana Allah nescaya kita akan sangat bahagia kerana setiap yang kita kerjakan dalam dunia bukan dilakukan untuk pandangan dan perhatian manusia semata-mata tetapi untuk mendapat redha Allah di dunia dan akhirat.

Begitu juga jika kita hanya menaruh keyakinan bahawa hanya Allah sahaja tempat untuk kita menaruh harapan, nescaya perasaan kita akan bebas dari segala penyakit mazmumah. Sebagai contoh, kita mengimpikan untuk memperolehi jawatan tinggi dalam pekerjaan, jika kita hanya melobi ketua dan melakukan pekerjaan hanya mahukan pengiktirafan, sebaliknya kita gagal terhadap jawatan berkenaan, pastinya kita akan terluka, kecewa dan marah kepada majikan kerana tidak menaikkan pangkat kita. Tetapi jika kita ikhlas melihat pekerjaan sebagai satu ibadah, bekerja sebagai amanah, kita akan berlapang dada menerima setiap rezeki yang Allah tentukan. Malah orang yang bergantung kepada Allah juga akan dapat membina peribadi tertinggi kerana jika kita yakin rezeki itu milik Allah dan hanya allah sahaja yang memberinya, kita tidak akan nada sifat dengki, khianat, menjatuhkan orang lain, menipu dan akhlak buruk lain yang sebenarnya perangai buruk ini akan hanya memakan diri sendiri.

Manusia adalah makhluk yang lemah, yang tentunya tidak punya daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Allah berfirman :

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا

"Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (Surah An-Nisa’ : 28)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Surah Al-Fathir : 15)

Selayaknya manusia sentiasa menggantungkan harapan, cita-cita serta kebergantungannya kepada Allah. Dan kita lebih mengetahui di antara nama Allah adalah As-Somad. Syeikh Muhammad bin Soleh Al-Utsaimin Rahimahullahu berkata : As-Somad adalah Zat yang sempurna sifat-sifat-Nya yang semua makhluk selalu memerlukanNya.

Oleh kerana itulah Allah memerintahkan kita untuk bertawakkal kepada-Nya sahaja. Allah berfirman :

وَتَوَڪَّلۡ عَلَى ٱلۡحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.” (Surah Al-Furqan : 58)

Definisi TAWAKKAL

Imam Ibnu Rajab Rahimahullahu berkata tentang definisi tawakkal :

صدق اعتماد القلب على اللّه تعالى في استجلاب المصالح ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة

Tawakkal adalah kejujuran hati dalam bergantung/bersandar kepada Allah dalam meraih kebaikan dan menjauhkan diri dari kemudharatan dalam urusan dunia maupun akhirat.

Imam Al-Jurjaani berkata tentang makna tawakkal :

التوكل هو الثقة بما عند اللّه، واليأس عما في أيدي الناس

Tawakkal adalah merasa yakin dengan kekuasaan Allah dan tidak bergantung kepada manusia.

Keutamaan orang yang bertawakkal

Allah dan Rasul-Nya telah banyak menjanjikan kepada orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya pelbagai macam keutamaan dan pahala. Diantaranya :

1. Meraih pertolongan Allah

Allah berfirman:

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡ‌ۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِى يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦ‌ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Kerana itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”
(Surah Ali Imran : 160)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullahu berkata: Ayat ini mengandungi perintah untuk memohon pertolongan kepada Allah serta bergantung kepada-Nya dan tidak bersandar kepada diri sendiri. Oleh kerana itu Allah berfirman “kerana itu hendaklah kepada Allah sahaja orang-orang mukmin bertawakkal”. Dan ketika Allah mendahulukan kata-kata “hendaklah kepada Allah” ini menunjukkan tawakkal harus kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain.

Kerana Allah lah satu-satunya Zat yang boleh menolong kita. Bergantung kepada Allah adalah bentuk tauhid yang akan melorongkan kita kepada tujuan yang benar. Sedangkan kebergantungan kepada selain-Nya itu adalah syirik yang tidak bermanfaat bagi pelakunya bahkan bermudharat sebenarnya. Dan di dalam ayat ini ada perintah untuk bertawakkal kepada Allah sahaja. Sejajar dengan kadar keimanan seorang hamba itulah tingkat tawakkalnya kepada Allah.

2. Mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan dari Allah dari gangguan syaitan.

Allah berfirman : إِنَّهُ ۥ لَيۡسَ لَهُ ۥ سُلۡطَـٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَڪَّلُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.”
(Surah An-Nahl : 99)

Syeikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata : Allah menjauhkan kejelekan syaitan dari orang-orang beriman yang bertawakkal kepada-Nya. Hingga tidak tersisa sedikitpun jalan bagi syaitan.

Nabi SAW bersabda :

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

Apabila seseorang akan keluar dari rumahnya lalu dia mengucapkan :

“بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ”

Dengan menyebut nama, aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) maka dikatakan kepadanya saat itu : engkau telah mendapat petunjuk, engkau telah dilindungi dan engkau telah dicukupi. Syaitan-Syaitan pun akan menjauhinya, dan syaitan yang lain akan berkata kepada temannya : bagaimana mungkin engkau bolehDr mengganggu orang itu sedangkan dia telah mendapat petunjuk, kecukupan dan perlindungan. (Hadith Riwayat Tirmidzi)

3. Menggapai kecintaan Allah

Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
(Surah Ali Imran : 159)

4. Memperoleh rezeki dari Allah

Rasulullah SAW bersabda:

لو أنكم توكلتم على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصاً وتروح بطاناً

Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal maka Allah akan menganugerahkan kepada kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung. Dia terbang pagi hari dalam keadaan lapar dan petang hari datang dalam keadaan kenyang. (Hadith Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)

5. Mencapai syurga Allah

Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ غُرَفً۬ا تَجۡرِى مِن تَحۡتِہَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَا‌ۚ نِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَـٰمِلِينَ (٥٨) ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَلَىٰ رَبِّہِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (٥٩)

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang Tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah Sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (iaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.”
(Surah Al-Ankabut : 58-59)

Syeikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullahu berkata : Tawakkalnya mereka mengharuskan mereka untuk sangat bergantung kepada Allah serta berbaik sangka kepada Allah untuk merealisasikan cita-cita mereka serta menyempurnakan usaha mereka.

Rasulullah SAW bersabda ketika menghuraikan tentang orang-orang yang masuk syurga tanpa hisab tanpa azab: (iaitu) orang-orang yang tidak meminta untuk diruqyah, tidak menjalankan pengubatan dengan besi panas, tidak mengganggap sial sesuatu dan mereka bertawakkal kepada Allah. (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sememangnya benar keutamaan dan pahala yang luas bagi mereka yang selalu bergantung kepada Allah di kala suka mahu pun duka dan tidak bergantung kepada manusia. Apatah lagi Rasulullah pernah berwasiat :

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ

Apabila engkau solat maka solatlah seolah-olah solat perpisahan dan jangan mengucapkan ucapan yang esok hari engkau akan menyesalinya dan jangan bergantung kepada manusia. (Hadith Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr hafidzahullahu berkata :

فيها دعوةٌ إلى القناعة، وتعليق القلب بالله وحده، واليأس تمامًا ممَّا في أيدي النَّاس، قال: «وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاس»؛ أي أجمِع قلبَك، واعزِم وصمِّم في فؤادك على اليأس من كلِّ شيءٍ في يد النَّاس؛ فلا تَرْجُه من جهتهم، وليكن رجاؤُك كلُّه بالله وحده ـ جلَّ وعلا ـ، وكما أنَّك بلسان مقالك لا تسأل إلَّا الله، ولا تطلب إلَّا من الله؛ فعليك كذلك بلسانِ حالك أن لا ترجو إلَّا الله، وأن تيأس من كلِّ أحدٍ إلَّا من الله، فتقطع الرَّجاءَ من كلِّ النَّاس، ويكون رجاؤك بالله وحدَه، والصَّلاة صلةٌ بينك وبين ربِّك؛ ففيها أكبرُ عونٍ لك على تحقيق هذا المطلب.
ومَن كان يائسًا ممَّا في أيدي النَّاس عاش حياتَه مهيبًا عزيزًا، ومَن كان قلبه معلَّقًا بما في أيدي النَّاس عاش حياته مهينًا ذليلًا، ومَن كان قلبه معلَّقًا بالله لا يرجو إلَّا الله، ولا يطلب حاجته إلَّا من الله، ولا يتوكَّل إلَّا على الله كفاه اللهُ عز وجل في دنياه وأخراه، والله جلَّ وعلا يقول: (أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ)[سورة الزمر : 36]، ويقول ـ جلَّ وعلا ـ: (وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ)[سورة الطلاق : ، والتَّوفيق بيد الله وحده لا شريك له.

Di dalam hadith di atas terdapat seruan untuk qana’ah dan menggantungkan hati hanya kepada Allah semata-mata serta betul-betul tidak berharap kepada manusia. Makna “jangan berharap kepada manusia” kumpulkan hati dan tanamkan di dalamnya untuk berputus asa dari apa yang ada di tangan manusia. Jangan berharap dari mereka, namun gantungkan semua harapanmu kepada Allah semata.
Sebagaimana engkau dengan lisanmu tidak meminta melainkan hanya kepada Allah, tidak memohon kecuali hanya kepada-Nya. Maka wajib bagimu untuk tidak berharap kecuali hanya kepada Allah dan engkau berputus asa dari semua (pertolongan) siapapun kecuali pertolongan Allah. Engkau hilangkan rasa berharap dari semua manusia hingga tidak tersisa kecuali harapan kepada Allah semata. Dan solat merupakan bentuk ikatan antara dirimu dengan Allah semata. Solat dapat membantu kita dalam meraih jalan tawakkal ini. Orang yang tidak berharap kepada manusia maka dia akan hidup dengan lebih terhormat dan berwibawa. Namun barangsiapa yang hidup selalu bergantung kepada manusia maka dia hidup dalam kehinaan dan kerendahan.

Barangsiapa yang hatinya selalu bergantung kepada Allah, tidak berharap melainkan hanya kepada Allah, tidak memerlukan kecuali pertolongan Allah, dia bertawakkal hanya kepada Allah maka Allah akan mencukupi keperluannya di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman :

أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبۡدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.”(Surah Az-Zumar : 36)

Allah juga berfirman :

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(Surah Ath-Thalaq : 3)

Hanya Allah sahaja yang dapat memberikan taufik, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Mengapa kita berharap kepada manusia sedangkan manusia itu sampai ketikanya akan mati?

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَڪُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sahajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sesungguhnya ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(Surah Ali Imran : 185)

Maka bertawakkallah dan berharaplah kepada Zat Yang Maha Hidup yang tidak akan pernah mati.

Allah berfirman :

وَتَوَڪَّلۡ عَلَى ٱلۡحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.”
(Surah Al-Furqan : 58)

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Surah Asy-Syarh : 8)

Mengapa kita bergantung kepada manusia sedangkan manusia itu lemah tidak memiliki daya dan kekuatan?

Allah berfirman :

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”
(Surah An-Nisa’ : 28)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah ; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”
(Surah Fathir : 15)

لا حول ولا قوة إلا بالله

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah
Mengapa kita bersandar kepada manusia sedangkan manusia itu boleh berubah? Mungkin dulu cinta sekarang benci, dulu memuji sekarang membenci. Hal ini mengingatkan kita kepada kisah seorang sahabat Rasul iaitu Abdullah bin Salaam.

Sebelum masuk Islam, beliau dicintai dan di label tokoh hebat oleh orang Yahudi. Namun ketika beliau masuk Islam maka orang-orang Yahudi langsung membenci dan mencaci makinya. Demikian juga di zaman ini, ketika ada orang yang mengamalkan sunnah Rasul terkadang terjadi perubahan drastik pada diri sebahagian orang. Pujian jadi cacian, cinta jadi benci sebagaimana perangai orang Yahudi.
Na’udzu billahi min dzalik.

Mengapa kita bergantung kepada manusia sedangkan ada manusia yang memiliki sifat seperti musang berbulu ayam yang bermuka dua yang mirip orang munafik? Di depan kelihatan baik namun menikam dari belakang. Di depan kata-katanya indah dan manis namun dibelakang, dia mengutuk dan menfitnah. Di depan seolah dia membantu, namun di belakang dialah musuh dalam selimut.

Allah berfirman :

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَـٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُونَ (١٤) ٱللَّهُ يَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِى طُغۡيَـٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ (١٥)

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan : “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan :

“Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berpura-pura” Allah akan (membalas) kepura-puraan mereka dan membiarkan mereka terumbang-ambing dalam kesesatan mereka.”
(Surah Al-Baqarah : 14-15)

Rasulullah SAW bersabda :

وتجدون شر الناس ذا الوجهين الذي يأتي هؤلاء بوجه وهؤلاء بوجه

Dan engkau dapati manusia yang paling jahat adalah manusia bermuka dua. Dia mendatangi manusia dengan wajah ini dan mendatangi mereka dengan wajah yang lain lagi. (Hadith Riwayat Bukhari)
Baginda juga bersabda :

مَنْ كَانَ لَهُ وَجْهَانِ فِي الدُّنْيَا كَانَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِسَانَانِ مِنْ نَارٍ

Barangsiapa yang bermuka dua di dunia maka dia akan berlidah dua dari api di hari kiamat. (Hadith Riwayat Abu Daud)

Mengapa kita bergantung kepada manusia sedangkan mereka terkadang hanya berteman dikala suka dan lari dikala duka?

Sebahagian orang mendekati dikala ada keperluan tapi setelah selesai maka dia berkata : Selamat tinggal sahabat. Sebahagian orang bersahabat ketika seseorang itu memiliki banyak harta dan kedudukan. Tapi menjauhi dikala harta dan kedudukan itu mulai menjauh. Ada gula ada semut, susu dibalas dengan tuba, mungkin inilah peribahasa yang sesuai dengan mereka. Dan sungguh indah ungkapan seorang penyair arab :

إذا قل مالي فلا خل يصاحبني وفي الزيادة كل الناس خلاني
كم من عدو لأجل المال صادقني وكم من صديق لفقد المال عاداني

Apabila sedikit hartaku tidak ada yang berteman denganku
Namun ketika bertambah banyak hartaku semua orang berteman denganku
Berapa banyak musuh kerana harta mahu berteman denganku
Dan berapa banyak teman kerana harta memusuhiku

Penyair yang lain berkata :

يا أخي أين عهد ذاك الإخاء……أين ما كان بيننا من صفاء ؟
أين مصداق شاهد كان يحكي….أنك المخلص الصحيح الإخاء
كشفت منك حاجتي هفوات…….غطيت برهة بحسن اللقاء
تركتني ولم أكن سئ الظن……أسئ الظنون بالأصدقاء
يا أخي ، هبك لم تهب لي من…..سعيك حظا كسائر البخلاء
أفلا كان منك رد جميل……..فيه للنفس راحة من عناء

Wahai saudaraku, dimanakah janji persaudaraan itu? Dimanakah hubungan baik kita selama ini?
Dimanakah bukti yang boleh menjadi saksi yang mengkisahkan bahawa engkau adalah sahabat sejati?
Setelah sekian lama, baru terungkap kejahatanmu yang ditutupi oleh senyum manismu disaat aku memerlukanmu.

Engkau tinggalkan aku (dikala duka), dan dulu aku tidak pernah berburuk sangka kepada sahabat-sahabatku.

Wahai saudaraku, andaikata engkau tidak boleh memberiku (harta) sebagaimana orang-orang bakhil itu.
Apakah engkau tidak boleh berkata yang indah yang dapat menenangkan jiwaku?

Penyair yang lain berkata :

أعلمه الرماية كل يوم فلما اشتد ساعده رماني
وكم علمته نظم القوافي فلما صار ناشده هجاني

Aku mengajarnya memanah setiap hari
Ketika kuat dia memanahku
Berapa banyak aku mengajarnya bersyair
Ketika dia pandai bersyair dia mengejekku

Penyair lain berkata :

إذا أنت أكرمت الكريم ملكته وإذا أنت أكرمت اللئيم تمردا

Jika engkau memuliakan orang baik maka dia akan membalas budimu
Dan apabila engkau memuliakan orang jahat maka dia akan derhaka kepadamu

Maka cukuplah Allah sebagai tempat curahan hati kita :

قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّى وَحُزۡنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

“Yaakub menjawab : “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”
(Surah Yusuf : 86)

وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ۬ فَلَا ڪَاشِفَ لَهُ ۥۤ إِلَّا هُوَ‌ۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٍ۬ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”
(Surah Al-An’aam : 17)

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِى ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ‌ۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

“Katakanlah : “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Surah Ali Imran : 26)

Rasulullah SAW pernah berwasiat :

احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسال الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لم اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك وان اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف

Jagalah (agama) Allah pasti Allah akan menjagamu. Jagalah (agama) Allah pasti Allah akan selalu menolongmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikanmu kebaikan, mereka tidak dapat memberimu kebaikan melainkan yang telah Allah takdirkan untukmu. Dan seandainya mereka semua berkumpul untuk memudharatkan dirimu, mereka tidak akan dapat memudharatkan dirimu melainkan yang telah Allah takdirkan atasmu. Telah diangkat tulisan-tulisan takdir dan telah kering lembaran-lembaran takdir. (Hadith Riwayat Tirmidzi)

Wallahu'alam
Sdr Syamsul Amri Hj Ismail @ Syamsul Debat

Ahad, 31 Januari 2021

Allah sangatlah senang kepada hambaNya yang selalu berdoa

 

Sebagaimana Alquran menyebutkan, Allah sangatlah senang kepada hambaNya yang selalu berdoa dan meminta apapun kepada-Nya dan Allah SWT sudah berjanji akan mengabulkan doa hamba–hambaNya. (Qs. Al Ghaafir : 60)

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina ” (QS. Ghaafir: 60).

Berikut tempat diyakini mustajab untuk berdoa ketika melaksanakan ibadah umrah dan haji:

1. Multazam (Makkah)

Multazam merupakan dinding yang terletak antara hajar Aswad dan pintu Kakbah.

Tempat ini diyakini para ulama sebagai tempat mustajab untuk berdoa di sekitar Kakbah.

Sebagaimana sesuai hadist riwayat Abdullah Bin Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Multazam adalah tempat dikabulkan doa. Tak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan (HR. Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Jilid V, hal. 347).

Oleh karena itu, tak heran saat haji maupun umrah di sekitar multazam orang lebih berdesak-desakan hanya untuk berdoa.

2. Hajar Aswad

Barangkali setiap muslim tahu Hajar Aswad, yaitu batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga.

Orang yang pertama kali menemukannya adalah Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim.

Hajar Aswad dijadikan pondasi Kakbah saat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mendapat perintah dari Allah.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa):” Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. “ (QS Al Baqarah : 127).

Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW, karena Beliau selalu menciumnya setiap saat tawaf.

Demikian pula Hajar Aswad menjadi posisi awal bagi jemaah haji untuk melakukan tawaf. Karena selain disunnahkan juga untuk mencium batu hitam tersebut, ada keistimewahan berdoa di Hajar Aswad diyakini mustajab.

3. Hijir Ismail

Hijir Ismail adalah setengah lingkaran kecil di samping Ka'bah.

Ditempat ini sering dipakai jamaah haji maupun umrah untuk melakukan salat sunnah karena diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa.

Hijir Ismail ini dahulu adalah fondasi rumah keluarga Nabi Ibrahim dan tempat berteduh sewaktu membangun Kakbah.

4. Makam Ibrahim

Makam Ibrahim adalah tempat bekas berdirinya Nabi Ibrahim AS tatkala membangun Kakbah terbuat dari batu.

Letak makam Ibrahim ini berhadapan dengan Pintu Kakbah.

Kini batu tersebut disimpan dalam bangunan kristal berkrangka besi dan tertutup kaca tebal.

Di sekitar makam Ibrahim inilah orang melakukan salat sunnah ketika telah selesai tawaf.

Karena keistimewaan makam ini di sebutkan Allah dalam QS Al Baqarah: 125

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah), tempat berkumpul bagi manusia, dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud. “

5. Shafa dan Marwah

Bukit Shafa dan Marwah merupakan saksi sejarah bagi umat Islam, masih dalam sejarah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Demikian, bukit Shafa dan Marwah termasuk bagian dari bangunan Masjidil Haram dan menjadi bagian dari pelaksanaan ibadah haji dan umrah, yakni Sa'i.

Ibadah Sa'i adalah berjalan kaki dan berlari-lari kecil di antara kedua bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali (bolak-balik).

Diriwayatkan dari Jabir dari Abdullah bahwa Rasulullah SAW pergi menuju Shafa hingga melihat Ka’bah, lalu Beliau mengucapkan kalimat tauhid, tahmid, dan takbir sebanyak tiga kali, kemudian berdoa sesuai dengan apa yang ia kehendaki. (HR. An Nasa’i dalam Kitab Manasik al Hajj, Jilid V, hal. 241).

6. Air Zamzam

Ada banyak riwayat menyebut Air Zamzam istimewa. Salah satunya ketika Rasulullah SAW meminum air dari sumur zam-zam beliau bersabda:

“Air Zam-zam penuh berkah dan makanan yang mengenyanginya dan obat bagi penyakit. Jibril mencuci hatiku pada malam isra’ adalah dengan air sumur itu.” (HR Bukhari Muslim).

Sumur Zamzam selalu mengeluarkan air bersih dan jernih yang tiada henti, karena keistimewaannya itu diamanatkan agar sewaktu meminum air Zamzam harus niat.

Sebelum minum air zam-zam hendaknya menghadap ke Ka’bah saat itulah juga bermunajat kepada Allah SWT, berdoa sebagai berikut.

Bismillahirrahmaanirrahiim
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan disembuhkan dari segala macam penyakit”.

7. Raudhah

Tempat mustajab untuk berdoa selanjutnya yakni di Masjid Nabawi, tepatnya di Raudhah (Taman Surga), yaitu tempat antara mimbar dan kediaman Rasulullah Muhammad SAW saat beliau hidup yang menjadi salah satu tempat istimewa bagi masyarakat muslim.

Doa yang dipanjatkan di Raudhah diyakini umat muslim akan dikabulkan Allah SWT, berdasarkan hadist berikut, Rasulullah saw bersabda, “Tempat antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Muslim).

Demikian tak heran untuk mencapai Raudhah ini menjadi dambaan umat Islam.

Para jemaah harus berebutan sebelum masuk ke tempat itu untuk salat, berzikir, berdoa dan membaca Alquran.

Itulah 7 tempat yang diyakini mustajab saat melaksanakan haji dan umrah di Al Haramain, Makkah dan Madinah.

Bila ingin berdoa di tempat-tempat tersebut sebaiknya jangan dipaksakan, mengejar sunnah namun malah dosa yang Anda dapatkan karena berdesak-desakan bahkan melukai dan menyakiti perasaan sesama muslim.

Berdoalah dan meminta ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha mendengar hamba-Nya.

Allah sangatlah menyukai kepada hambaNya yang selalu berdoa dan meminta apapun kepadaNya.