Memaparkan catatan dengan label fitnah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label fitnah. Papar semua catatan

Jumaat, 9 Februari 2018

Fitnah Dilarang Oleh Allah S.W.T,

Sebagaimana maksud firman-Nya dalam Surah al-Baqarah: 191:

“Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.”

Firman Allah dalam Surah An Nur : 15 – 16

“Ingatlah ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.” (15)

“Dan mengapakah kamu tidak berkata ketika mendengarnya, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.” (16)

Allah telah memberi peringatan supaya meninggalkan perbuatan memfitnah sesama manusia dalam Surah An Nur ayat 17 yang maksudnya :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Perkara itu diingatkan dengan tegas oleh Rasulullah dalam sabda Baginda yang bermaksud: “Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, sifat kedekut dan jenayah berleluasa”. – (Hadis riwayat Muslim).

Rasulullah juga bersabda: “Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya) akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat”. – (Hadis riwayat Muslim).

Allah berfirman dalam surah al-Hujurat, ayat 6 yang bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidiki dulu (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, kerana kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan”.

Dosa fitnah juga menghalang kita masuk syurga. Rasulullah bersabda: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah”. – (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Penyebar fitnah akan diberi malu oleh Allah apabila dibangkitkan pada akhirat kelak. Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang menyebarkan kata-kata yang memalukan seorang Muslim dengan tidak sebenarnya, nescaya dia akan diberi malu oleh Allah dalam neraka pada hari kiamat”. – (Hadis riwayat Ibn Abid Dunya dari Abu Zar).

Mencari dan membocorkan rahsia orang dilarang Allah seperti di dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain”. – (Surah al-Hujurat, ayat 12).

Allah berfirman: “Kecelakaan besar bagi tiap-tiap pencaci dan pengeji.” – (Surah al-Humazah, ayat pertama).

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kamu apa itu mengumpat?” “Tidak,” jawab sahabat. Balas Baginda, “Mengumpat adalah kamu menyebut tentang kawan kamu apa yang dibencinya.” Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimanakah sekiranya sesuatu yang disebut itu ada padanya?” Jawab Rasulullah SAW, “Itulah maksudnya mengumpat.” Nabi berkata lagi, “Kalau kamu menyebut apa yang tidak ada padanya, itu adalah buhtan (fitnah).” (Hadis Riwayat Tirmizi. 

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:”Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [An Nur : 12].

Diceritakan dari Abu Ayyub, bahawa isterinya berkata, ”Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan banyak orang tentang Aisyah?” Abu Ayyub menjawab, ”Ya. Itu adalah berita bohong. Apakah engkau melakukan perbuatan itu (zina), hai Ummu Ayyub? Ummu Ayyub menjawab, ”Tidak. Demi Allah, saya tidak melakukan perbuatan itu.” Abu Ayyub berkata, ”Demi Allah, A’isyah itu lebih baik dibanding kamu.. 

Kemudian Allah berfirman.

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta”. [An Nur : 13].

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”. [Al Hujurat : 6].

Sabtu, 9 Disember 2017

Tidak Masuk Syurga Orang Yang Suka Menyebarkan Fitnah

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.”
[Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]

Firman Allah SWT maksudnya, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab (neraka) Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.” [Surah Al-Buruuj, ayat 10]

Fitnah dalam ayat di atas, begitu luas maknanya. Namun, ia turut termasuk dalam makna membuat tuduhan palsu atau mereka-reka cerita tentang si polan agar cerita itu dapat memburukkan air muka si polan, atau mendatangkan masalah/bencana kepada si polan, atau mewujudkan kebencian orang lain kepada si polan.

Orang yang membuat cerita fitnah dan tuduhan palsu, berdasarkan hadis mereka akan ke neraka selagi mereka belum bertaubat dan belum memohon maaf kepada orang yang difitnahnya itu, melainkan Allah tidak izinkan neraka baginya. Ini lah digelar hablumminannas, konsep hubungan manusia sesama manusia. Tanpa maaf dari manusia yang dizalimi, maka selagi itu Allah tidak akan redha kepada pemfitnah itu.

Kebanyakan kes tukang fitnah tidak merasai bahawa cerita fitnahnya itu sesuatu yang besar.  Tapi ia sebenarnya suatu yang besar dan kesan yang mendalam kepada orang yang difitnah, dan ia terlebih sangat besar dosanya di sisi Allah.

Firman Allah SWT maksudnya, "Iaitu semasa kamu bertanya atau menceritakan berita dusta itu dengan lidah kamu, dan memperkatakan dengan mulut kamu akan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan yang sah mengenainya; dan kamu pula menyangkanya perkara kecil, pada hal ia pada sisi Allah adalah perkara yang besar dosanya."
[Surah An-Nur, ayat 15]

Orang yang menyebarkan cerita fitnah, adalah orang tidak patut dipercayai katanya dan dituruti kehendaknya. Samada dia adalah ibu kita, ayah kita, abang kita, pakcik kita, atau datuk kita, maka janganlah kita terus mempercayai kata mereka dan kehendak mereka, kajilah terlebih dahulu akan kesahihan cerita mereka sebelum bertindak, sebagaimana saranan Allah:

"Dan janganlah engkau (mempercayai dan) menurut kemahuan orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina (pendapatnya dan amalannya); yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan"
[Surah Al-Qalam, ayat 10-11]

Kenapa? Kerana dalam surah An-Nur ayat 15 tadi, pencerita dusta atau penyebar cerita fitnah adalah dikira dosa besar di sisi Allah, maka orang seperti ini dianggap fasiq. Maka diterangkan lagi oleh Allah dalam dalil lain:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum (atau orang lain) dengan perkara yang tidak diingini - dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) - sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan." [Surah Al-Hujurat, ayat 6]

Kita patut mendidik diri kita agar tidak menceritakan sesuatu yang dusta, tidak berkata buruk, tidak menggunakan lidah kita untuk sesuatu yang mendatangkan dosa. Lidah juga boleh menyebabkan kita dikira tidak beriman, dan boleh menyebabkan kita ke neraka.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda maksudnya: "Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya berkata yang baik atau, (jika tidak dapat) lebih baik diam." [Hadis Riwayat Bukhari no. 6018]

Dalam hadis lain baginda berpesan maksudnya: "Orang yang disebut muslim adalah orang yang dapat menjaga tangannya dan lisannya (dari menyakiti muslim lain)."
[Hadis Riwayat Bukhari no. 10 dan Muslim no 64]

Orang yang menyebarkan cerita dusta dan palsu dan fitnah ini juga dikategorikan sebagai ciri seorang munafiq. Maka terpalitlah segala darjat buruk kepada tukang fitnah, iaitu fasiq dan munafiq. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw tentang menerangkan ciri-ciri orang munafiq:

Dari Abdullah bin Amr, Nabi SAW bersabda maksudnya: “Empat perkara, siapa yang terdapat padanya empat perkara ini, maka ia adalah munafik tulen, dan siapa yang terdapat padanya salah satu darinya, maka padanya ada satu ciri kemunafikan; apabila diberi amanah ia berkhianat, apabila bercerita ia berdusta, apabila membuat janji ia mungkiri, dan apabila berdebat ia melampaui batas.”
[Hadis Riwayat Bukhari no. 3178 dan Muslim no. 2635]

Golongan penyebar fitnah ini akan habis dan lebur amalannya di akhirat nanti kerana amalannya telah diberikan kepada orang yang dia fitnah dan zalimi. Jika telah habis amalannya diberikan, maka dosa orang yang dia fitnah pula akan ditanggungi oleh dia. Dia menjadi muflis dan tidak ada lagi amalan baik pada dirinya dan dia di humbankan ke neraka. Nauzubilahiminzalik.

Isnin, 18 September 2017

Cara Menghadapi Fitnah

Berlindunglah Kepada Allah Ta'ala dari fitnah, karena Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sering sekali berdoa meminta perlindungan dari Allah agar tidak terkena fitnah.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bahkan sudah memperingatkan umatnya akan timbulnya fitnah, sebagaimana dalam sebuah hadits shahih:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ ». قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ « الْقَتْلُ »

Artinya: "Zaman akan semakin dekat, dicabutnya ilmu, akan timbul fitnah-fitnah, dimasukkan (ke dalam hati) sifat kikir dan akan banyak al harj", mereka (para shahabat) bertanya: "Apakah al harj,wahai Rasulullah?", beliau menjawab: "Pembunuhan". HR. Bukhari dan Muslim.

Fitnah jika sudah datang maka akan datang bersamaan dengannya kerusakan sampai hari kiamat. Allah Ta'ala telah memperingatkan adanya fitnah, coba perhatikan firman-Nya:

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]

Artinya: "Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya". (QS. 8:25).

Makna fitnah adalah sesuatu yang genting, berubah-rubah, tidak ada stabilitas dan semisalnya, akibat dari penyimpangan terhadap ajaran islam.

Kaidah-kaidah penting untuk seorang muslim dalam menghadapi fitnah:

1. Jika timbul fitnah, maka hendaklah hadapi dengan sikap hati-hati, tidak gegabah dan penuh kesabaran.

Hadapi dengan lemah lembut dan ramah tamah, karena Sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

« إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ».

Artinya: "Sesungguhnya kelemah lembutan (keramah tamahan) tidaklah ada di dalam sebuah perkara kecuali menghiasinya dan tidak dicabut (kelemah lembutan) dari sesuatu kecuali memburukkannya". HR. Bukhari dan Muslim.

Hadapi dengan sikap hati-hati (tidak gegabah) dan kesabaran, berdasarkan sabda Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam kepada Asyajj Abdul Qais radhiayallahu 'anhu:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

Artinya: "Sesungguhnya di dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu; kesabaran dan pelan-pelan (tidak gegabah)". HR. Muslim.

2. Tidak menghukumi sesuatu kecuali sesudah mengetahui kejadian sebenarnya, sesuai dengan kaedah fiqih:

الحكم على الشيء فرع عن تصوره

Artinya: "Menghukumi sesuatu itu adalah termasuk bagian tentang gambaran sesuatu tersebut."

Dan perlu diingat, suatu perkara tidak bisa diketahui kecuali dengan dua: dari kabar kaum muslim yang terpercaya dan dari berita orang yang meminta fatwa akan perkara tersebut meskipun orang yang minta fatwa tersebut adalah orang fasik.

3. Hendaklah selalu memegang sikap adil dan pertengahan (tidak berlebih-lebihan). Karena firman Allah Ta'ala:

{وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى} [الأنعام: 152]

Artinya: "…Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu…," (QS. 6:152).

Juga firman Allah Ta'ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ } [المائدة: 8]

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan." (QS. 5:8).

Dan arti sikap adil dan sikap pertengahan bukanlah berarti membenarkan yang salah dan menyalahkan yang batil tetapi menempatkan standar kesalahan dan standar kebenaran sesuai dengan syari'at Islam bukan dengan hawa nafsu, harap diperhatikan point ini.

4. Selalu bersatu dalam kesatuan kaum muslim di bawah kepemimpinan yang sah.

Karena hal inilah yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya:

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} [آل عمران: 103]

Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. 3:103).

Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

Artinya: "Hendaklah kalian berjama'ah (di dalam kesatuan kaum muslimin) dan jauhilah dari perpecahan". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.

Dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berpecah belah ketika sudah jelas keterangan dan dalil bagi dia, firman Allah Ta'ala:

{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)} [آل عمران: 104، 105]

Artinya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104) Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS. 3:105).

5. Slogan, bendera, visi dan yang semisalnya yang dibawa ketika fitnah harus ditimbang oleh seorang muslim dengan timbangan syari'at agama Islam, timbangannya Ahlu Sunnah wal Jama'ah.

Dan timbangan yang digunakan ada dua macam: pertama, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi, slogan merupakan agama Islam, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yaitu kekufuran. Dan kedua, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi dan yang semisalnya sesuai dengan islam yang benar, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yang benar adalah Islam yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Allah Ta'ala berfirman:

{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ} [الأنبياء: 47]

Artinya: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan". (QS. 21:47).

6. Setiap perkataan dan perbuatan di dalam setiap fitnah harus ada dhawabith (ukuran yang tepat).

Karena tidak semua perkataan yang anda anggap baik itu cocok untuk dikatakan dalam fitnah tertentu, begitu pula tidak semua perbuatan yang anda anggap baik itu cocok untuk diperbuat di dalam fitnahtertentu.

Karena setiap perkatan ataupun perbuatan akan mendatangkan beberapa perkara yang lain. Oleh sebab itu ada riwayat dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً.

Artinya: "Tidak anda berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka". HR.Muslim.

7. Jika terjadi fitnah, maka bersatulah dengan kaum muslimin apalagi para ulama.

Dan para ulama yang merupakan referensi (tempat kembali kaum muslimin) adalah mereka yang mempunyai dua sifat: pertama, dari ulama Ahlus sunnah yang mengerti tentang tauhid, sunnah dan yang lainnya yang berdasarkan pemahaman para shahabat nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dan kedua, yang benar-benar paham akan hukum-hukum islam secara menyeluruh, paham akan kaedah-kaedah dasar, akar-akar permasalahan, sehingga mereka tidak mempunyai kesamaran dalam menghadapi permasalahan.

8. Seorang muslim tidak boleh menurunkan hadits-hadits tentang fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada fitnah yang lagi berlangsung, misalkan dengan mengatakan : "Inilah fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, atau dengan mengatakan: "Inilah orang yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, padahal fitnah tersebut masih berlangsung belum selesai, boleh kita mengatakan seperti itu ketika fitnah tersebut sudah selesai sebagai pernyataan seorang muslim akan berita yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Tulisan ini disarikan dari kitab berjudul "Adh Dhawabit Asy Syar'iyyah Limauqif Al Muslim Min Al Fitan" (kaidah-kaidah Syariat tentang sikap seorang muslim dalam menghadapi keadaan-keadaan genting), karya Syeikh Shalih Alu Syeikh hafizhahullah, Menteri Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah dan Penyuluhan untuk Kerajaan Arab Saudi. Alih Bahasa: Abu Abdillah Ahmad Zainuddin.

Jumaat, 14 November 2014

Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman percaya kepada berita angin. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita itu benar, dan juga tidak semua berita yang disampaikan ada faktanya. Ingatlah, musuh-musuh kamu senantiasa mencari kesempatan untuk menjatuhkan kamu. Maka wajib atas kamu untuk selalu berwaspada, hingga kamu boleh kenal pasti orang yang hendak menyebarkan berita yang tidak benar.

Fitnah disebarkan untuk memburuk-burukkan individu atau kumpulan kerana perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan layak dibandingkan orang lain. Ia juga menyebabkan nilai agama musnah daripada menjadi pegangan hidup dalam masyarakat. Apabila nilai agama yang menjadi tunjang kesempurnaan hidup hilang, maka banyak dosa dilakukan. Perkara itu diingatkan dengan tegas oleh Rasulullah dalam sabda Baginda yang bermaksud: “Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, sifat kedekut dan jenayah berleluasa”. – (Hadis riwayat Muslim).

Fitnah adalah sebahagian daripada perbuatan mengadu-domba. Apabila disebarkan, ia mudah menyebabkan permusuhan dua pihak. Permusuhan menjadi semakin tegang dan tidak terkawal apabila banyak fitnah ditabur.

Ia juga tidak mempunyai asas kebenaran. Islam mengarahkan manusia supaya memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dalam berita berunsur fitnah. Justeru, wajib bagi orang Muslim menghalusi setiap berita yang diterima sebelum mempercayainya. Kesahihan berita dapat dilakukan dengan melihat kepada fakta dan sumber berita.

Jika perlu, gunakan masa lebih lama sebelum membuat keputusan. Lebih lama berfikir adalah lebih baik supaya tidak menanggung kesan buruk. Allah memberi hidayah kepada manusia untuk berfikir dengan hati terbuka dan mengharapkan petunjuk-Nya.

Sekiranya berita yang diterima belum diketahui kebenarannya, jangan kita membicara atau menyebarkannya. Rasulullah bersabda: “Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya) akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat”. – (Hadis riwayat Muslim).

Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran penting bagi memastikan kita tidak terpedaya dengan berita palsu berunsur fitnah. Allah berfirman dalam surah al-Hujurat, ayat 6 yang bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidiki dulu (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, kerana kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan”.

Dalam era teknologi maklumat, penyebaran fitnah mudah dilakukan melalui alat komunikasi tanpa perlu berdepan dengan orang lain, malah identiti penyebar juga dirahsiakan.

Dosa fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, ia tidak diampunkan Allah melainkan orang yang difitnah memberi keampunan. Tentu sukar untuk mengakui kesalahan sendiri dan memohon keampunan daripada orang lain.

Dosa fitnah juga menghalang kita masuk syurga. Rasulullah bersabda: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah”. – (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Penyebar fitnah akan diberi malu oleh Allah apabila dibangkitkan pada akhirat kelak. Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang menyebarkan kata-kata yang memalukan seorang Muslim dengan tidak sebenarnya, nescaya dia akan diberi malu oleh Allah dalam neraka pada hari kiamat”. – (Hadis riwayat Ibn Abid Dunya dari Abu Zar).

Iman Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsia yang tidak mahu diketahui orang lain adalah perbuatan adu-domba dan fitnah.

Mencari dan membocorkan rahsia orang dilarang Allah seperti di dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain”. – (Surah al-Hujurat, ayat 12).

Sesiapa yang menyebarkan berita berbentuk cacian dan kejian, kecelakaan besar bakal diterima sebagai balasan. Allah berfirman: “Kecelakaan besar bagi tiap-tiap pencaci dan pengeji.” – (Surah al-Humazah, ayat pertama).

Hanya orang yang berpekerti buruk melahirkan perkataan buruk. Orang cerdik tidak sekali-kali mengeluarkan perkataan buruk yang secara langsung melambangkan keburukan diri sendiri.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kamu apa itu mengumpat?” “Tidak,” jawab sahabat. Balas Baginda, “Mengumpat adalah kamu menyebut tentang kawan kamu apa yang dibencinya.” Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimanakah sekiranya sesuatu yang disebut itu ada padanya?” Jawab Rasulullah SAW, “Itulah maksudnya mengumpat.” Nabi berkata lagi, “Kalau kamu menyebut apa yang tidak ada padanya, itu adalah buhtan (fitnah).” (Hadis Riwayat Tirmizi)

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:”Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [An Nur : 12].

Wahai kaum msulimin, inilah langkah pertama yang harus engkau lakukan, jika ada berita buruk tentang saudaramu, yaitu berhusnuhan (berperasangka baik) kepada dirimu. Jika engkau sudah husnuzhan kepada dirimu, maka selanjutnya kamu wajib husnuzhan kepada saudaramu dan (menyakini) kebersihannya dari cela yang disampaikan. Dan engkau katakan,

“Maha Suci Engkau (Allah) , ini merupakan kedustaan yang besar”. [An Nur : 16].

Inilah yang dilakukan oleh sebagian shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sampai berita kepada mereka tentang Ummul Mukminin.

Diceritakan dari Abu Ayyub, bahwa istrinya berkata,”Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan banyak orang tentang Aisyah?” Abu Ayyub menjawab,”Ya. Itu adalah berita bohong. Apakah engkau melakukan perbuatan itu (zina), hai Ummu Ayyub? Ummu Ayyub menjawab,”Tidak. Demi Allah, saya tidak melakukan perbuatan itu.” Abu Ayyub berkata,”Demi Allah, A’isyah itu lebih baik dibanding kamu.”

Kemudian Allah berfirman.

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta”. [An Nur : 13].

Inilah langkah yang kedua, jika ada berita tentang saudaranya. Langkah pertama, mencari dalil yang bersifat batin, maksudnya berhusnuzhan kepada saudaranya.

Langkah kedua mencari bukti nyata.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”. [Al Hujurat : 6].

Maksudnya mintalah bukti kebenaran suatu berita dari si pembawa berita. Jika ia boleh mendatangkan buktinya, maka terimalah. Jika ia tidak boleh membuktikan, maka tolaklah berita itu di depannya; karena ia seorang pendusta. Dan cegahlah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali. Dengan demikian, berita itu akan mati dan terkubur di dalam dada pembawanya ketika kehilangan orang-orang yang mau mengambil dan menerimanya.

Siapakah yang akan terlibat dengan dosa besar fitnah?

1. Individu yang mula-mula mencipta dan merancangan berita fitnah itu dengan diubah suai gambar-gambar palsu (superimpose) dan dimuatkan dalam internet (facebook, blog atau you-tube)

2. Semua akhbar yang memuatkan dalam akhbar mereka tanpa usul periksa di petik daripada laman sosial dan membenarkan berita-berita atau gambar-gambar berupa fitnah tersebut.

3. Sesiapa sahaja yang ‘share’ dan ‘like’ dan mempercayai dan menyebarkan pula berita fitnah tersebut kepada rakan-rakan mereka dalam facebook atau blog.

4. Semua saluran televison yang menyiarkan berita fitnah dan membesar-besarkannya seolah-olah perkara tersebut benar-benar berlaku tanpa membawa saksi dan bahan bukti yang sahih.

5. Semua NGO , kelab, persatuan, pemimpin parti politik , pemimpin masyarakat, bekas pemimpin negara, pensyarah, wartawan, penulis blog dan artis yang menyokong dan memberi komen negatif tanpa membawa saksi yang adil terhadap berita fitnah terutama yang melibatkan tuduhan zina atau liwath maka mereka semuanya akan mendapat saham DOSA BESAR . Sia-sia sahaja amal soleh dan amal ibadah mereka di dunia kerana seronok mempromosikan berita fitnah dan tuduhan jahat . Termasuk juga individu yang hebat memperkatakan Islam dan pakar motivasi tetapi tewas dengan hasutan syaitan mudah mempercayai fitnah dan tuduhan zina dan liwath kepada seorang muslim tanpa membawa 4 orang saksi yang adil. Setakat dakwaan tidak cukup untuk disabitkan kesalahan seseorang muslim.

Apakah akibat yang akan mereka terima di dunia dan akhirat jika mereka membuat, menyebarkan, menyokong dan mempercayainya?

Khamis, 29 November 2012

Bahaya Fitnah


Penyebaran fitnah mudah berlaku dalam era teknologi komunikasi moden sekarang. Kemudahan khidmat pesanan ringkas (SMS), laman web dan emel membolehkan penyebaran maklumat tanpa memerlukan bertemu secara berdepan, lebih mudah, cepat, meluas dan murah. Teknologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah. Penyebaran fitnah melalui SMS yang berleluasa memaksa kerajaan menetapkan peraturan semua pemilik kad prabayar didaftarkan.

Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Wajib bagi Muslim menghalusi setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah. Sebarang berita diterima perlu dipastikan kesahihannya. Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran amat penting digunakan bagi memastikan tidak terpedaya dengan berita berunsur fitnah.
Firman Allah bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu. Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.
Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu. Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.

Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.

Penyebar khabar angin biasanya menyebut perkataan ‘dengar khabar’ mengenai berita yang disebarkan. Bagaimanapun, apabila berita tersebar daripada seorang ke seorang, maklumat yang belum sahih itu sudah hilang dan kemudian disebarkan seperti berita benar. Dalam Islam, sesuatu berita benar tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang berkaitan cerita itu tidak mahu ia disebarkan kepada orang lain. Menyebarkan berita benar tetap dilarang, inikan pula menyebarkan berita tidak benar.

Imam Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsianya yang tidak mahu diketahui orang lain dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.

Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12). Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu berita berunsur fitnah.

Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu. Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah ketiga kerajaan Islam di Madinah iaitu Uthman Affan, yang berpunca daripada fitnah disebarkan kumpulan ekstremis agama.

Penyebaran fitnah turut menjadi penyebab kepada peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali dan zaman selepas itu. Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah. Ubat bagi penyakit hati ialah dengan memperbanyakkan taubat dan selalu berzikir.
Fikir-fikirkanlah, sebelum menghantar e-mel atau SMS. Jika masyarakat Islam sendiri boleh berperang sesama sendiri kerana fitnah, apatah lagi masyarakat majmuk? Jika benar sekalipun beberapa berita, tetapi jika menyebarnya tanpa konteks ia seolah-olah menyiram minyak di atas bara api.