Khamis, 28 Januari 2016

Arti Tawasul dan Hukum Tawasul



Arti Tawasul dan Hukum Tawasul - Berikut ini adalah artikel mengenai arti tawasul dan hukum tawasul menurut ahlussunnah wal jamaah.

Arti Tawasul adalah mendekatkan diri atau memohon kepada Allah SWT dengan melalui wasilah (perantara) yang memiliki kedudukan baik di sisi Allah SWT.

Wasilah yang digunakan bisa berupa nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh yang kita lakukan, dzat serta kedudukan para nabi dan orang shaleh, atau bisa juga dengan meminta doa kepada hamba-Nya yang sholeh. Allah SWT berfirman :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَة

Artinya : Dan carilah jalan yang mendekatkan diri ( Wasilah ) kepada-Nya. (Al-Maidah:35).

Menurut jumhur Ahlus Sunnah Wal-Jamaah, tawasul dengan segala ragamnya adalah perbuatan yang dibolehkan atau dianjurkan. Kebolehan tawasul dengan nama dan sifat Allah SWT, amal shaleh dan meminta doa dari orang sholeh telah disepakati, bahkan oleh kelompok yang keras sikapnya terhadap tawasul ini, sehingga perlu kami paparkan dalil-dalilnya panjang lebar. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul.

Hukum Tawasul - Bertawasul dengan nabi dan orang-orang shaleh kerap menjadi permasalahan. Contoh sederhana tawasul jenis ini adalah ketika seseorang mengharapkan ampunan Allah SWT. Misalnya ia berdoa, “ Ya Allah, aku memohon ampunanmu dengan perantara nabi-Mu atau Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.” Terlihat jelas dalam bertawasul, nabi atau orang sholeh hanyalah perantara, sedangkan yang dituju dengan do’a hanyalah Allah SWT semata. Dengan tawasul, ia tidak menjadikan nabi dan orang shaleh tersebut sebagai tuhan yang disembah.

Namun kenyataan sederhana ini tidak bisa dipahami oleh sebagian orang yang mengaku mengikuti sunnah namun kenyataannya adalah jauh dari sunnah. Mereka menganggap tawasul jenis ini adalah bentuk menyekutukan Allah SWT. Seorang Syaikh Wahabi Abu Bakar Al-Jaziri berkata mengenai Tawasul: “ Sesungguhnya berdoa kepada orang-orang shaleh, Istighosah (meminta tolong) kepada mereka dan tawasul dengan kedudukan mereka tidak terdapat didalam agama Allah ta’ala, baik berupa ibadah maupun amal shaleh sehingga tidak boleh bertawasul dengannya selama-lamanya. Bahkan itu adalah bentuk menyekutukan Allah SWT di dalam beribadah kepada-Nya, hukumnya haram dan dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam serta mengakibatkan kekekalan baginya di neraka Jahannam.”(Aqidatul Mu’min, hal 144). Fatwa ini sangat tendensius dan tidak berbobot ilmiah.

Dalil - dalil Hukum Tawasul

Dalil Pertama Mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits shahih tentang Syafaat yang diriwayatkan oleh para hufadz dan ahli hadits. Pada hari kiamat, ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, mereka mengalami kepayahan yang sangat. Mereka bertawasul dengan mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan supaya Allah SWT mengistirahatkan mereka dari penantian yang panjang.

Dalil kedua tentang Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan nabi adalah hadits dari sahabat Utsman bin Hunaif yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, an-nasai, ath-Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi dengan sanad yang shahih. Diriwayatkan dari Utsman bin hunaif bahwa seorang lelaki buta datang kepada Nabi SAW Memohon kepada Rasulullah SAW berdoa untuk kesembuhannya. Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau ingin, aku akan doakan. Namun jika engkau bersabar maka itu lebih baik.”Lelaki itu tetap berkata, “Doakanlah.”Nabi SAW lalu memerintahkan kepadanya untuk berwudhu dengan sempurna, shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa berikut: “Ya Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad, nabi yang rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku denganmu agar terpenuhi hajatku. Ya Allah, izinkanlah ia memberikan syafaatnya kepadaku…” kemudian lelaki itu bisa melihat.

Hukum Tawasul di dalam hadits riwayat ath Thabrani dan al-Baihaqi terdapat tambahan bahwa shabat Utsman bin Hunaif di kemudian hari mengajarkan doa tersebut kepada seorang lelaki agar hajatnya terpenuhi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Tambahan hadits ini dishahihkan oleh ath Thabrani. Al-Haitsami dalam Majma Zawaid menetapkan pendapat ath Thabrani mengenai keshahihannya. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa lelaki buta meminta doa kepada Nabi SAW, namun Nabi tidak mendoakannya melainkan mengajarkan doa yang berisi bertawasul dengan nabi saw. Ini menunjukkan bertawasul dengan nabi saw. boleh.

Seandainya tawasul ini syirik maka tidak mungkin Nabi SAW mengajarkannya kepada orang buta tersebut. Para pengingkar tawasul akan berusaha memalingkan makna hadits tersebut dengan takwil yang jauh dari makna dzohirnya. Mereka yang mengatakan yang dimaksud orang buta tersebut bukan bertawasul dengan nabi saw melainkan bertawasul dengan meminta doa Nabi saw. Perkiraan ini keliru sebab hadits tersebut tidak menjelaskan bahwa Nabi saw. berdoa. Bahkan yang disebutkan adalah bahwa Nabi saw. meminta orang buta itu berdoa dengan menyebut nama beliau dalam doanya sebagai perantara. Jika itu adalah bentuk tawasul dengan doa, pasti Nabi saw. tidak perlu repot-repot mengajarkan doa yang panjang itu. Beliau hanya perlu menengadahkan tangan dan berdoa.

Dalil lain mengenai Hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan dzat adalah hadits yang disebutkan dalam shahih Bukhari bahwa sayidina Umar ra meminta hujan pada masa kekeringan dengan sayidina Abbas, paman Nabi saw. seraya berkata:“Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawasul kepada-Mu dengan Nabi-Mu SAW, dan sesungguhnya kami sekarang bertawasul kepadamu dengan paman Nabi kami.” Maka hujanpun turun.Para ulama menyebutkan bahwa tawasul sayidina Umar ini bukan dalil tidak bolehnya bertawasul dengan nabi saw setelah wafatnya, sebab telah berlalu dalil mengenai tawasul para sahabat dengan Nabi saw setelah wafat. Ini adalah dalil mengenai kebolehan bertawasul dengan hamba yang sholeh selain nabi. Hadits ini juga menunjukkan bahwa tawasul tidak harus dilakukan dengan hamba yang paling utama. Shabat Ali bin Abi Thalib lebih utama dari sahabat Abbas, tapi justru sahabat Abbas yang dijadikan wasilah. Tawasul dengan sahabat Abbas pada hakikatnya juga tawasul dengan Rasulullah SAW. Kalau bukan karena dia adalah kerabat dengan posisinya dengan Rasulullah saw., maka tidaklah beliau dijadikan tawasul. Berarti ini adalah bentuk bertawasul dengan nabi juga. Arti Tawasul dan Hukum Tawasul

Imam as-Subki dan Ibnu Taimiyah Tentang Hukum Tawasul Pendapat mengenai hukum Tawasul - Kebolehan bertawasul dengan Nabi diperkuat dengan kesepakatan para ulama salaf dan kholaf. Imam as-Subki mengatakan: “Bertawasul, meminta pertolongan dan meminta syafaat dengan perantara Nabi kepada Allah adalah baik. Tidak ada seorangpun dari kaum salaf dan kholaf yang mengingkari hal ini sampai datang Ibnu Taimiyah. Ia mengingkari hal ini dan melenceng dari jalur yang lurus, memunculkan ide baru yang tidak pernah dikatakan oleh ulama sebelumnya sehingga terjadilah keretakan dalam islam.”

Dalam ucapannya, Imam as-Subki menegaskan bahwa kebolehan bertawasul dengan Nabi disepakati sampai datang Ibnu Taimiyah. Namun faktanya, Ibnu Taimiyah sendiri sebenarnya tidak mengingkari kebolehan bertawasul kepada Nabi. Yang beliau ingkari adalah istighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi SAW, bukan Tawasul.

Ibnu Katsir salah satu murid Ibnu Taimiyah menceritakan mengenai tuduhan yang ditujukan kepada Ibnu Taimiyah: “Kemudian Ibnu Atho’ menuduhnya (Ibnu Tiaimyah) dengan banyak tuduhan yang tidak bisa dibuktikan satu pun. Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata, “Tidak boleh beristighosah selain kepada Allah, tidak boleh beristighosah kepada Nabi dengan istighosah yang bermakna ibadah. Namun boleh bertawasul dan meminta syafaat dengan perantara Beliau (Nabi SAW) kepada Allah.” Maka sebagian orang menyaksikan menyatakan, ia tidak memiliki kesalahan dalam masalah ini.” (Bidayah Wa Nihayah juz 14 hal 51).

Jadi tampak jelas bahwa (Hukum Tawasul) bertawasul dengan Nabi sama sekali tidak diingkari oleh Ibnu Taimiyah, sedangkan tuduhan yang dialamatkan kepada beliau itu keliru. Bahkan fatwanya, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hukum tawasul dengan Nabi disyariatkan dalam berdoa. Beliau mengatakan:“Termasuk ke dalam hal yang disyariatkan adalah bertawasul dengannya ( Nabi SAW ) di dalam doa sebagaimana terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi dan dishahihkan olehnya bahwa Nabi SAW mengajarkan seorang untuk berdoa, “Wahai Allah, sesungguhnya aku bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bertawasul dengan perantaramu kepada Tuhanku agar Dia menunaikan hajatku itu. Wahai Allah, jadikan ia orang yang memberi syafaat kepadaku.”Tawasul yang seperti ini adalah perbuatan yang baik. Sedangkan berdoa dan beristighosah kepadanya ( Nabi SAW ), maka itu merupakan perbuatan yang haram.

Perbedaan di antara keduanya telah disepakati dikalangan umat muslim. Orang yang bertawasul sebenarnya hanya berdoa kepada Allah, menyeru kepada-Nya dan memohon pada-Nya. Ia tidak berdoa selain pada-Nya. Ia hanya menghadirkannya ( Nabi SAW ). Adapun orang yang berdoa dan meminta tolong, maka berarti ia memohon kepada yang ia seru dan meminta darinya, serta meminta tolong dan bertawakal kepadanya, sedangkan Allah merupakan Tuhan semesta alam. (Majmu Fatwa juz 3 hal 276). Berdoa dan beristighosah yang dilarang Ibnu Taimiyah seperti sudah dijelaskan adalah dengan makna beribadah. Semua ulama bersepakat bahwa beribadah kepada Nabi Muhammad SAW adalah Syirik, berbeda dengan beribadah kepada Allah dengan melalui Nabi Muhammad yang malah disyariatkan.

Muhammad bin Abdul Wahab Tentang Hukum Tawasul

Berbeda dengan pengikutnya mengenai hukum tawasul yang menghukumi syirik kepada orang yang bertawasul dengan Nabi SAW dan orang Sholeh, ternyata pendiri Wahabi Muhammad bin Abdul Wahab manganggap masalah tentang hukum tawasul adalah masalah ijtihadiyah yang tidak perlu diperselisihkan.

Dalam kumpulan tulisannya, disebutkan bahwa beliau pernah berfatwa: "Mengenai adanya sebagian ulama yang memperbolehkan untuk bertawasul dengan orang-orang sholeh dan sebagian lain yang hanya mengkhususkan kebolehan itu dengan Nabi SAW saja, maka mayoritas ulama melarangnya dan tidak menyukainya. Ini merupakan satu masalah fiqih walaupun pendapat yang benar menurut kami adalah pendapat jumhur yang menyatakan bahwa bertawasul adalah makruh. Namun kami tidak mengingkari orang yang melakukannya karena tidak ada ingkar atas permasalahan-permasalahan ijtihadiyah. Namun pengingkaran kami hanya ditujukan bagi orang yang berdoa kepada makhluk dengan lebih mengagungkannnya daripada kita menyeru kepada Allah".(Majmu Mualafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab juz 2, hal 41 cetakan Darul Qasim)

Pernyataan beliau keliru dalam hal bahwa jumhur ulama tidak menyukai tawasul dengan Nabi SAW dan orang sholeh, sebab kenyataannya justru para ulama sepakat menganggap hal itu baik. Namun sikap beliau tentang tawasul jelas itu adalah masalah ijtihadiyah. Muhammad bin Abdul Wahab tidak mengingkari tawasul. Yang beliau ingkari adalah jika seorang mengagungkan orang sholeh lebih daripada pengagungannya kepada Allah SWT. Tidak ada seorang muslim pun yang bertawasul dengan menganggap wasilahnya lebih agung dari Allah SWT.

Jika Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab tidak pernah mengingkari bertawasul dengan Nabi maupun orang Shaleh, dari mana kaum Wahabi mendapat ajaran yang menganggap syirik orang yang bertawasul? - Arti Tawasul dan Hukum Tawasul Sumber: Rubrik Cahaya Nabawi

Sumber dari
http://cintai-ulama.blogspot.my/2014/11/arti-tawasul-dan-hukum-tawasul.html?m=1


Jumaat, 22 Januari 2016

Ustaz Halim Nasir - Tafsir Surah Maryam - Ayat 96


Diterbitkan pada 22 Jan 2016
Kuliah Maghrib tafsir Surah Maryam oleh Ustaz Halim Nasir di Masjid Andalusia, Bandar Laguna Merbok, Sungai Petani, Kedah pada 22 Januari 2016. Kuliah berkenaan tafsir ayat 96 Surah Maryam

Isnin, 18 Januari 2016

Bersangka Baik; "Antara bekalan seseorang mukmin itu, adalah ilmu yang bermanafaat.


Bersangka Baik; "Antara bekalan seseorang mukmin itu, adalah ilmu yang bermanafaat. Dan apabila bertambahnya ilmu yang bermanafaat itu, maka akan bertambah kecintaan kita untuk menuju ke tempat asal kita. Dimana tempat asal kita semua? Tempat asal kita iaitu syurga."

"Apabila bertambahnya ilmu yang bermanafaat itu juga, moga-moga akan dapat membesarkan kebencian kita kepada sifat cinta dunia. Dan Ilmu agama yang bermanafaat ini, Allah سبحانه وتعالى akan berikan kepada yang diizinkan-Nya dan orang yang dicintai oleh-Nya."

"Allah سبحانه وتعالى tidak akan membenarkan mana-mana manusia untuk mendapatkan, ilmu ini kecuali dengan izin-Nya. Dan Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para malaikat menghamparkan sayapnya untuk kita berjalan diatas sayapnya."

"Seseorang yang diberikan ilmu oleh Allah سبحانه وتعالى, sebenarnya Allah ingin muliakan dirinya. Allah ingin meletakkan darjatnya pada kedudukan yang tinggi. Adakah sama kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sudah tentu, tidak sama."

"Amalkan doa ini selepas solat; "Rabbi zidni ilma." Ya Allah, tambahkanlah aku ilmu yang bermanafaat. Dan kita meminta tambah rezeki, tambah umur, disamping itu mintak juga tambahkan ilmu skali. Rezeki pon mintak, rezeki zahir dan rezeki batin pon mintak, yakni mintak ilmu juga zahir dan batin."

"Masjid adalah tempat dan masa, dimana manusia itu sujud kepada Allah سبحانه وتعالى. Dimana untuk penyucian hati. Ketenangan hati. Sebab apa syariat solat, puasa, zakat, haji penting? Kerana ia adalah induk penyucian bagi hati kita."

"Syariat itu meraih hakikat, yakni untuk mengenal Allah سبحانه وتعالى dan wasilah penarik rahmat Allah hatta seseorang yang melakukan keburukan tomahan dan cacian kepadanya. Maka dia nampk hakikat yang menggerakkan segala sesuatu itu hanyalah Allah سبحانه وتعالى dan die tidak merasa benci dengan orang itu."

"Dia tahu itu semua, hanyalah ujian daripada Allah سبحانه وتعالى. Hidup ini adalah ujian. Dan apabila kita belajar mengenal solat, jangan sangkutkan kepada solat sahaja semata-mata. Akan tetapi sangkutkan juga kenal terhadap Allah."

"Apabila kita rukuk macam mane kita dapat kenal dengan Allah. Apabila kita sujud macam mana kita dapat kenal Allah. Kita cuba kenal Allah سبحانه وتعالى disetiap tingkahlaku solat kita. Masjid ini satu tmpt yang diwaqafkan dan dikhaskan untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى."



"Secara umumnya seluruh tanah dibumi ini adalah masjid. Semuanya adalah tempat sujud. Ketika ingin masuk masjid, selawatlah keatas nabi n baca doa; "Allahuma tahli abwaba rohmatik." Selawat keatas nabi adalah pengangkat segala doa kepada Allah سبحانه وتعالى, kerana Nabi Muhammad ﷺ itu, pengantara kekasih Allah."

"Doa akan tergantung kecuali disertakan dengan selawat keatas Rasulullah ﷺ. Pada awal permulaan doa dimulakan dgn ucapan "Alhamdulillah" dan ditutupi dengan "Alhamdulillah" begitu juga dengan selawat keatas nabi. Dibuka dengan selawat, dan ditutup juga dengan selawat."

"Di akhirat nanti tiada seorang pon akan masuk syurga, disebabkan oleh ibadahnya secara direct. Akan tetapi hanyalah, dengan rahmat Allah سبحانه وتعالى. Bukan sebab amalan kita. Jangan kamu menyangka dengan ibadah kamu yang banyak, kamu sudah pasti masuk syurga. Tidak. Tidak. Belum tentu."

"Apabila seseorang berada didalam masjid, maka niat iktikaf. Setiap saat berada dalam masjid selepas niat iktikaf setiap saat itu kita dapat pahala. Solat Tahiyyat masjid jangan lupa. Tahiyyat bermaksud "Penghormatan." Yakni ucapan penghormatan kepada Allah سبحانه وتعالى. Ini adab."

"Macam mana greeting kita kepada Allah? "How do you greet Allah?" I greet Allah سبحانه وتعالى with tahiyyat." Yang panjang lebih afdhal. Yang pendek pon boleh. "At-Tahiyyatullah." Ini cara kita nak hormat masjid. Bukan maknanya beri salam dimasjid. Akan tetapi dengan solat tahiyyat masjid."

"Kita nak beri salam pada wuduk dengan solat tahiyyat wuduk. Kita nak beri salam kat kaabah bukan dengan beri salam kepada kaabah, akan tetapi tawaf mengeliling kaabah. Solat sunat mutlak yang tiada waktu khas boleh dikerjakan walaupun dua rakaat."

"Ianya boleh diniatkan sekali sunat-sunat seperti qabliyah, ba'diah, tahiyatul masjid, tahiyyatul wuduk, istikharah, taubat. Sebab itu para alim ulamak kaya dengan amalan, sebab hanya dengan memperbanyakkan niat sahaja. Lebih banyak niat kebaikan untuk satu pekerjaan, lebih banyak pahala."

"Al-Imam As-syafie رحمه الله تعالى berkata; "Dan hati aku menjadi tenang, oleh kerana sesuatu yang diusahakan aku. Yang mengharapkan natijah kebaikan. Akan tetapi sebaliknya yang aku dapat kerana aku memujuk hatiku dengan mengatakan semua itu adalah perancangan dan hikmah daripada Allah سبحانه وتعالى. Maka aku tidak merungut, aku tidak komplen, aku tidak protes dan aku tidak mempertikaikannya."

"Segala yang datang dari Allah سبحانه وتعالى semuanya baik. Musibah yang terkena kepada orang kafir adalah azab atau seksa. Akan tetapi musibah yang terkena kepada orang muslim itu sebagai ujian test dari Allah سبحانه وتعالى. Tetapi, kalau dia menganggap musibah ini sebagai bala, sebagai azab, sebagai seksa."

"Maka ia bertukar daripada ujian kepada azab dan bala. Allah سبحانه وتعالى beri ujian sebab Allah sayang. Allah menaikkan darjatnya. Allah promote untuk kedudukan yang lebih tinggi untuk tingkatkan darjatnya. Dan disamping ganjaran pahala dan juga penghapusan dosa. Bukankah ianya baik perkara yang baik? Setiap yang datang daripada Allah سبحانه وتعالى, semuanya adalah baik. Bersangka baiklah kamu kepada Allah."

Guru mulia kami. Tauhid. Darul Mujtaba. Ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari.

Tak Rugi Hormat Orang | Ustaz Shamsuri Hj Ahmad

Sabtu, 16 Januari 2016

Pandangan Habib Rizieq & FPI terhadap TEROR BOM SARINAH



Disampaikan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Iman Kp. Cijalu Cikampek Timur Kabupaten Karawang 15 Januari 2016

Bagaimana Islam Menghadapi Orang Murtad/Kafir?

Ajaran Islam dalam dalam menghadapi orang-orang murtad dan kufur sangat bersikap keras dan tegas. Islam meletakkan hukuman pancung dengan pedang, sebagai balasan kekufuran dan tidak bersedianya melakukan taubat. Mereka tetap saja memalingkan muka dari kebenaran yang nyata.

Imam Al-Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

"Barang siapa mengganti agamanya (Islam), maka bunuhlah ia". Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Rasulullah saw.:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِى ءٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ ׃ الثَّيِّبُ الزَّانِى وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ ٠

"Tidaklah halal darah orang Muslim kecuali disebabkan salah satu dari tiga perkara-. Yang sudah menikah berzina, mem­bunuh, meninggalkan agamanya dan memisahkan jamaahnya".

Tetapi yang murtad dan kafir ini tidak dibunuh kecuali diberi tempo selama tiga hari. Dalam tempo tersebut, para ahli agama dan ilmu pengetahuan mendiskusikan tentang sebab-sebab murtad dan kufurnya, di samping menghilangkan gambaran ke­raguan yang diduga, serta menerangkan karakteristik kebenaran yang nyata. Jika ia tetap mempertahankan kekufuran atau kemurtadannya setelah segala kebenaran dijelaskan, barulah hukum­an mati dilaksanakan, agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau menjadikannya sebagai pelajaran.

Jika orang-orang murtad dan kafir ini membentuk kekuatan dan kelompok, wajib bagi pemerintahan yang terdiri dari kaum Muslim untuk memeranginya. Sehingga, mereka kembali kepada Islam yang hak, dan tidak ada jalan lain kecuali memeranginya. Seperti Abu Bakar telah memerangi orang-orang Arab yang murtad, bahkan beliau tidak menerima sesuatu dari mereka kecuali Islam. Juga seperti Khalifah 'Abbasiyah Al-Mahdi mem­bunuh Al-Muqann yang mengaku dirinya "tuhan" di Khurasan, dan membebaskan kepada pengikutnya tentang shalat, puasa, zakat dan haji, serta memperbolehkan mengambil harta siapa pun dan bergaul dengan siapa pun (zina). Ini terjadi pada tahun 169 Hijriyah.

Islam mewajibkan hukuman yang keras ini kepada orang-orang murtad dan kafir karena tiga sebab:

Pertama: Agar orang-orang yang berjiwa lemah tidak tertarik kepada rayuan yang membawa kepada kemurtadan dan kekufuran.

Kedua: Agar orang munafik tidak berpikir untuk masuk Islam kemudian keluar lagi, sebagai pemberian stimulan kepada gerakan murtad atau kafir dan menanam kekacauan di kalangan masyarakat Islam.

Ketiga: Agar kelompok kafir tidak menjadi kuat, yang dapat membahayakan negara Islam, dan pada suatu situasi dan kondisi yang memungkinkan mereka bisa menghancurkan kaum Muslimin.

Itulah cara islam yang tersemat dalam AL Qur'an dan dalil hadits Nabi dalam menghadapi orang-orang murtad.